Ayah, Mengerti lah Perasaan Ibu…
Hari ini langit begitu cerah, matahari memancarkan sinarnya yang indah.
Vera mengawali langkahnya menuju sekolah dengan senyuman yang indah dan penuh
semangat berharap mempunyai hidup yang menyenangkan. Sesampai disekolah, Vera
belajar dengan sungguh-sunggu untuk mendapatkan ilmu yang berguna.
Akan tetapi pada saat dia pulang kerumah, dia melihat kejadian yang tidak
menyenangkan. Senyumnya yang indah seketika menghilang dengan sekejap mata. Dia
melihat orang tuanya yang bertengkar , hal itu membuat dirinya bertanya-tanya
apa yang sebenarnya terjadi. Didekat kursi dia melihat adiknya yang bernama Reno
hanya bisa terdiam melihat kejadian itu. Lalu dia mencoba mendekati adiknya
tersebut dan bertanya “ Adik ada apa
dengan ayah dan ibu?” dengan vuleme suara yang kecil, tapi adiknya Cuma
bisa menggeleng-gelengkan kepala. Dilain sisi dia juga melihat adiknya yang
bernama Rika yang hanya bisa menangis.
Tiba-tiba ibunya menagis dan berkata “
Vera, Tolong kamu bawah adik mu keluar dari rumah”, Kemudian mendengar hal
itu seketika Vera membalikkan wajahnya ke arah ayahnya untuk meminta
persetujuan, dan ayahnya pun berkata “
Tolong bawah adik mu semua keluar”, dengan nada pelan. Ia segera
melaksanakan perintah kedua orang tuanya. Dia mencoba menghilangkan tangisan
adiknya Rika dengan mengajaknya ke taman bermain yang tak jauh dari rumahnya.
Sesampainya di taman, dia membiarkan adiknya bermain dan tidak lupa untuk
mengawasi adiknya. Dia kemudian duduk di bangku yang ada ditaman, tiba-tiba ia
teringat hal yang terjadi dirumah. Dia terus bertanya-tanya di dalam hatinya " Ada apa sebenarnya ini, mengapa kedua
orang tua ku bertengkar?”. Ia terus memikirkannya sampai-sampai ia tidak
mendengar panggilan adiknya. Adiknya Reno mencoba memukul bahu Kakaknya,
Seketika Vera kaget dan mengatakan “Ada
apa dik?”, lalu Reno menjawab “Kakak
kenapa, Kok melamun. Apakah masih memikirkan kejadian dirumah?”, Vera
menjawab “Tidak kenapa-kenapa kok dik,
sudah kamu pergi saja temani adik Rika main”. Reno membalas jawaban
Kakaknya “ Iya Kak, tapi Rika Memanggil
Kakak”, kemudian Vera berkata “O….iya
dik, tunggu sebentar” dengan nada kaget. Setelah puas bermain Vera dan
kedua adiknya segera pulang kerumah, Vera berharapa semoga kedua orang tuanya
tidak bertengkar lagi.
Sesampainya mereka dirumah, dia melihat situasi rumah sudah tidak lagi ada
pertengkaran. Dia melihat Ayahnya yang sedang duduk diteras, kemudian ayahnya
menyapa adiknya yang paling kecil Rika “Darimana
Nak?”, Kemudian Rika menjawab “Dari
main Ayah”. Melihat adiknya bercerita dengan Ayahnya, Vera meminta izin
untuk masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ia tidak melihat Ibu nya, Vera
langsung menuju kekamarnya karena dia pikir mungkin saja Ibunya ada didalam
kamarnya.
Ternyata dugaannya benar Ibunya berada dalam kamarnya sedang tertidur,
dia melihat mata Ibunya yang bengkak dan dia tahu bahwa Ibunya telah menangis. Kemudian Vera mendekati Ibunya, seketika Ibunya terbangun dan
membuka matanya. Ibunya berkata “Oh..
Kamu Nak, sudah pulang. Adik mu dimana?”, “Ali dan Rika sedang ada di teras mengobrol bersama Ayah. Ibu aku boleh
bertanya sesuatu?” Kata Vera, Ibunya menjawab “Boleh Nak, mau bertanya apa ?”. Lalu Vera menanyakan kepada Ibunya
“Bu…kenapa tadi bertengkar sama Ayah, ada
apa sebenarnya?”. Ibunya pun bercerita mengapa dia bertengkar. Di
tengah-tengah penjelasannya, Ibunya meneteskan air mata dan mengatakan “Nak, kalau suatu saat Ibu dan Ayah cerai,
kamu dan adikmu ikut ayah, supaya kamu bisa melanjutkan sekolah. Nanti Ibu
tetap jenguk kamu dirumah kalau Ayah pergi, atau kita ketemunya ditempat lain.
Ibu sudah capek dengan perlakuan Ayah mu, tidak pernah mengerti perasaan Ibu”.
Mendengar hal tersebut hati Vera menjadi sedih, seketika dia memeluk Ibunya dan
berkata “Ibu jangan berpisah sama Ayah“,
mengucapkan kata-kata itu membuat dirinya menangis. Lalu Ibunya Vera menjawab “Tapi Nak harus demikian memang begitu, kamu
tidak kasihan sama Ibu. Ibu capek Nak mau tenang,ini masalah sudah lama Ibu
pendam, Ibu sudah lama bersabar, Ibu sudah menanyakan hal ini pada Ayahmu, tapi
Apa Nak Ayahmu selalu marah kalau di tanya begitu. Padahalkan Ibunya Cuma mau
tau kebenarannya, seandainya bunuh diri tidak dilarang agama pasti Ibu sudah
lakukan”. Kemudian Vera mangatakan “Baiklah
Ibu kalau memang Ibu mau pisah sama Ayah, Vera ikut Ibu!”. “ Tapi Nak, kamu
harus sekolah, disini kamu bisa tidur dan makan enak”. Semakin sedih lah
Vera mendengar hal itu.
Setelah ia mendengarkan semua perkataan Ibunya, dia lalu keluar kamar dan
bertanya kepada ayahnya “Ayah mau
berpisah sama Ibu?”, tapi Ayahnya hanya mengatakan “Kamu nggak usah urus itu, urus saja sekolahmu”. Mendengar
perkataan Ayahnya, Vera kemudian pergi kedepan TV untuk menghilangkan sedihnya.
Beberapa menit kemudian Ayah Vera masuk kedalam rumah dan duduk disebuah sofa,
melihat Ayahnya duduk disofa sambil menonton TV Vera bertanya lagi “Ayah apa betul kita sudah Nikah?”. Tapi
Ayah Vera tidak menjawabnya dan mengganti topik pembicaraan.
Beberapa minggu kemudian kejadian itu terulang kembali, disaat Vera melihat
kedua orang tuanya bertengkar. Dia merasa sangat sedih melihat kejadian itu dan
tidak tau apa yang harus dia lakukan. Dia ingin mengeluarkan isi hatinya kepada
Ayahnya tapi dilain sisi dia merasa takut.
Mendengarkan kata perceraian yang keluar dari mulut Ibunya dan melihat
Ibunya menangis, akhirnya ia memberanikan diri dan mengatakan “ Ayah…,mengapa kita perlakukan Ibu seperti itu, Ibu sudah
baik pada Ayah. Ayah saja yang tidak tau. Ibu menutup semua kejelekan Ayah dari
orang lain, tapi apa Ayah selalu saja menceritakan kejelakan Ibu didepan banyak
orang, walau ayah memang bercanda, tapi perlakuan ayah itu kelewatan. Apa lagi
sekarang ada Gossip yang beredar tentang Ayah, Ayah hanya diam saja tidak
menanggapinya Kenapa sih Ayah tidak mau menjelaskan yang sebenarnya, mengapa
ayah tidak melarang perempuan itu berkata yang tidak-tidak. Aku dan adik capek
mendengar kan semua perkelahian Ayah dan Ibu. Apa tidak bisa Ayah dan Ibu
menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Panggil saja perempuan itu,
suruh dia mengatakan sebenarnya, supaya jelas. Kalau Ayah memang sayang pada
Aku,adik-adikku dan Ibu, tolong selesaikan masalah ini dengan baik, tanpa ada
perpisahan antara Ayah dan Ibu. Aku mohon. Aku ingin keluarga kita hidup
bahagia”.
Mengeluarkan semua isi hatinya membuat air matanya jatuh membasahi pipinya.
Vera juga berkata “ Aku dan adik-adik
sayang kalian berdua, kami ingin keluarga yang Utuh”. Ayahnya hanya terdiam
mendengarkan kata-kata Vera anaknya.
Malam telah tiba, Vera dan adiknya tertidur diatas kursi, mereka capek
mendengarkan Kedua Orang tuanya berkelahi. Ibunya melanjutkan pekerjaan rumah
tapi dalam hati masih merasa sedih , Ayahnya entah pergi kemana.
Tidak selang beberapa waktu, Ayahnya mengajak sesosok perempuan masuk ke
dalam rumah dan Ayahnya memanggi Ibunya. Yang membuat Vera terbangun dari
tidurnya, ia mendengarkan percakapan kedua orang tuanya dan si perempuan itu,
tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya. Dalam hati ia berpikir mungkin kah ini
perempuan yang dimaksudkan Ibu, semoga saja Ayah mau menyelesaikan permasalahan
ini.
Dia akhir percakapan kedua orang tuanya dengan si perempuan itu, dia
mendengar kalimat maaf dari perempuan itu, dan Ayahnya juga meminta maaf kepada
Ibunya. Mendengar hal itu Vera merasa bahagia, dia tersenyum sambil mengatakan
dalam hatinya “Akhirnya Ayah mau mengerti
perasaan Ibu, semoga tidak ada lagi pertengkaran dirumah ini”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar